Artikel

Sakit Kepala Bahaya: Kapan Paracetamol Tak Lagi Cukup? 

Banyak orang di Indonesia terbiasa menelan obat warung saat pusing melanda. Faktanya, kebiasaan ini justru bisa menutupi masalah saraf serius. Anda perlu mengenali ciri sakit kepala bahaya agar tidak terlambat mendapat penanganan medis. 

Sakit kepala biasa umumnya hilang setelah istirahat cukup. Sebaliknya, sakit kepala bahaya menunjukkan adanya gangguan struktur otak atau pembuluh darah. Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan gangguan sakit kepala kronis memengaruhi kualitas hidup jutaan orang. Akibatnya, kondisi ini bisa memicu stroke ringan atau peradangan selaput otak (meningitis). Kebiasaan begadang, stres tinggi, dan postur tubuh buruk saat main gadget sering menjadi pemicu utamanya pada kalangan anak muda. 

Sakit kepala bahaya biasanya datang tiba-tiba dengan intensitas luar biasa hebat. Bahkan, rasa nyerinya kerap dijuluki thunderclap headache atau sakit kepala petir. Selanjutnya, Anda mungkin merasakan pandangan kabur, leher kaku, atau kelemahan pada satu sisi tubuh. Menurut jurnal The Lancet Neurology tahun 2024, deteksi dini sangat menentukan persentase kesembuhan pasien. 

Cobalah beristirahat di ruangan gelap dan tenang. Kemudian, pastikan Anda minum air putih cukup untuk menghindari dehidrasi. Kompres dingin pada leher bagian belakang juga membantu meredakan ketegangan otot. Bila sakit kepala bahaya tetap terasa hebat setelah minum paracetamol sesuai dosis, segera hentikan pengobatan mandiri. 

Asosiasi Sakit Kepala Internasional (IHS) menegaskan pentingnya pemeriksaan neurologis jika intensitas nyeri terus meningkat. Terlebih lagi, bila keluhan disertai demam tinggi atau kejang. Segera kunjungi dokter spesialis saraf di Columbia Asia Hospital untuk mendapatkan pemeriksaan menyeluruh. Tim kami siap mendeteksi sumber sakit kepala bahaya Anda lewat fasilitas diagnostik yang tepat.  

Direview oleh

INDRIAZEL SYAPUTRI HUTASUHUT
dr.

INDRIAZEL SYAPUTRI HUTASUHUT

NEUROLOGY
Jadwalkan Konsultasi