Banyak orang tua memutar musik klasik untuk janin atau bayi. Tujuannya jelas, berharap anak tumbuh cerdas. Kepercayaan ini mengakar kuat di masyarakat Indonesia. Padahal, anggapan tersebut keliru.
Sebenarnya, mitos Mozart effect muncul dari riset tahun 1993. Penelitian itu menunjukkan mahasiswa yang mendengarkan sonata Mozart mengalami peningkatan kemampuan spasial sesaat. Sayangnya, publik menyalahartikan temuan ini untuk bayi. Faktanya, American Academy of Pediatrics (AAP) menegaskan tidak ada bukti ilmiah yang membuktikan mendengar musik klasik bisa menaikkan IQ anak secara permanen. Bahkan, para ahli sepakat stimulasi pasif tergolong kurang efektif.
Efek Nyata Musik Terhadap Perkembangan Otak
Mendengarkan nada beraturan memang bermanfaat. Ritme musik terbukti membantu menenangkan suasana hati anak. Tentu saja, anak yang tenang menyerap informasi lebih baik. Sejalan dengan itu, riset Center on the Developing Child di Harvard University menyebutkan bahwa interaksi aktif, seperti belajar memainkan instrumen, yang sebenarnya memperkuat sirkuit neurokognitif. Jadi, mitos Mozart effect sering membuat orang tua salah fokus.
Sebaliknya, mulailah mengajak anak bernyanyi bersama setiap hari. Interaksi dua arah terbukti jauh lebih krusial. Bermain cilukba atau membacakan buku sangat ampuh membangun koneksi saraf otak anak.
Ajak buah hati berbicara sejak dini. Berikan permainan sensorik yang aman. Biarkan anak bebas bereksplorasi mandiri. Setiap anak memiliki kecepatan berkembang yang unik. Kadang kala, hambatan bicara atau gangguan motorik bisa saja muncul. Bila anak belum mencapai tonggak perkembangan usianya, sebaiknya Anda bertindak cepat.
Segera jadwalkan konsultasi tumbuh kembang anak Anda bersama dokter spesialis anak berpengalaman di Columbia Asia Hospital. Kami hadir memberikan pendampingan medis yang tepat untuk masa depan cerah buah hati Anda.
Direview oleh