Kerja shift malam menjadi bagian dari rutinitas banyak orang, mulai dari tenaga kesehatan, pekerja industri, petugas keamanan, hingga pekerja layanan pelanggan. Di luar tuntutan pekerjaan, kebiasaan begadang juga semakin umum karena penggunaan media sosial, menonton film, atau bermain game hingga larut malam. Padahal, tubuh manusia secara alami dirancang untuk beraktivitas pada siang hari dan beristirahat saat malam.
Ketika pola tidur terus berubah, ritme sirkadian atau jam biologis tubuh dapat terganggu. Ritme ini berperan penting dalam mengatur siklus tidur, metabolisme, produksi hormon, dan fungsi otak. Gangguan yang berlangsung lama dapat memengaruhi kesehatan secara menyeluruh, termasuk kesehatan otak (American Heart Association, 2024).
Paparan cahaya pada malam hari dapat menurunkan produksi melatonin, yaitu hormon yang membantu tubuh mengenali waktu tidur dan bangun. Saat produksi melatonin terganggu, kualitas tidur cenderung menurun dan tubuh tidak memperoleh waktu istirahat yang optimal (CDC-NIOSH, 2021).
Kurang tidur yang terjadi berulang kali juga dapat memengaruhi kemampuan konsentrasi, daya ingat, serta suasana hati. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kurang tidur kronis berkaitan dengan peningkatan peradangan dalam tubuh dan gangguan fungsi sistem imun yang dapat berdampak pada kesehatan otak dalam jangka panjang (Garbarino et al., 2021).
International Agency for Research on Cancer mengelompokkan kerja shift yang mengganggu ritme sirkadian sebagai faktor yang berpotensi meningkatkan risiko kanker pada manusia (IARC, 2020). Meski demikian, hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang menyatakan bahwa kerja shift malam secara langsung menyebabkan tumor otak.
Jika Anda sering mengalami sakit kepala yang berulang, sulit berkonsentrasi, mudah lupa, gangguan penglihatan, atau rasa lelah yang tidak kunjung membaik meski sudah beristirahat, sebaiknya lakukan pemeriksaan lebih lanjut. Evaluasi sejak dini dapat membantu menemukan penyebab keluhan dan mencegah gangguan kesehatan yang lebih serius.
Menjaga jadwal tidur yang konsisten, menciptakan lingkungan tidur yang nyaman, serta mengelola pola hidup sehat dapat membantu mengurangi dampak kerja shift malam terhadap tubuh. Jika Anda mengalami gangguan tidur atau keluhan saraf yang mengganggu aktivitas sehari-hari, konsultasikan kondisi Anda dengan dokter spesialis saraf di Columbia Asia Hospital untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.

Direview oleh