Istirahat yang cukup dan menjaga pola hidup sehat merupakan salah satu cara yang dilakukan untuk menjaga kebugaran dan kesehatan tubuh. Tapi pernahkah kamu merasa Lelah dan letih meskipun sudah beristirahat dengan cukup? Serta terjadi beberapa perubahan pada kondisi kulit dan masalah pencernaan yang terus-menerus.
Beberapa gejala tersebut dapat menjadi salah satu pertanda sinyal mengenai kesalahan pada kondisi kesehatan tubuh yang seringkali tidak dapat dideteksi bagi sebagian besar orang, yaitu gejala penyakit autoimun. Penyakit autoimun merupakan suatu kondisi dimana sistem kekebalan tubuh yang seharusnya melindungi tubuh dari virus dan bakteri namun justru berbalik menyerang tubuh itu sendiri.
Yang menjadi permasalahan dalam hal ini adalah gejala yang ditimbulkan dari penyakit autoimun terkesan samar dan tidak spesifik, sehingga seringkali disalahartikan sebagai gejala stress, kurang istirahat atau gangguan psikosomatis semata. Dalam artikel ini, akan membahas lebih dalam tentang gejala-gejala penyakit autoimun yang sering luput dikenali, serta mengapa penting untuk mengenali tanda-tanda sedari dini.
Sebab dengan deteksi awal yang cepat, maka akan semakin besar peluang untuk mengelola kondisi ini dan menjalani hidup yang tetap produktif.
Gejala Awal Penyakit Autoimun
Penyakit autoimun tidak terjadi secara tiba-tiba. Bahkan dalam sebagian besar kasus, tubuh sudah memberikan pertanda sinyal selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Beberapa gejala umum yang sering muncul dari penyakit autoimun diantaranya:
-
Kelelahan kronis: Bukan sekadar capek, tapi rasa lelah berkepanjangan yang dapat mengganggu aktivitas harian.
-
Nyeri otot dan sendi: Kaku, bengkak, atau nyeri yang datang tanpa sebab jelas.
-
Demam ringan berulang: Tubuh sering merasa “tidak enak” seperti mau sakit, namun tidak benar-benar sakit.
-
Ruam kulit: Kulit menjadi lebih sensitif dan timbul bercak kemerahan seperti iritasi.
-
Masalah pencernaan: Seperti kembung, nyeri perut, diare kronis, atau sembelit yang terus berulang.
-
Kesemutan dan mati rasa: Sering dirasakan pada bagian tangan dan kaki yang menjadi pertanda dari adanya gangguan saraf akibat autoimun.
-
Brain fog: Sulit untuk fokus dan berkonsentrasi serta sering merasa mudah lupa.
-
Rambut rontok: Gejala ini paling sering dianggap sepele, padahal gejala rambut rontok ini dapat menjadi tanda awal dari penyakit lupus.
Faktor Yang Dapat Meningkatkan Risiko
Hingga saat ini belum dapat diketahui dengan pasti penyebab utama dari penyakit autoimun. Namun sebagian besar riset menyebutkan beberapa hal yang dapat meningkatkan risiko penyakit autoimun dapat disebabkan oleh:
-
Faktor Genetik
Penyakit ini dapat lebih rentan terjadi apabila salah satu atau kedua orang tua juga mengalami gangguan yang sama. Meskipun begitu, faktor genetik bukanlah faktor utama yang mengakibatkan seseorang terkena penyakit autoimun.
-
Jenis Kelamin
Perempuan lebih rentan terkena penyakit autoimun dibandingkan dengan laki-laki. Hampir dari 80% penyakit autoimun diderita oleh perempuan yang disebabkan oleh hormon estrogen yang mempengaruhi respon sistem kekebalan tubuh.
-
Kelebihan Berat Badan
Berat badan yang berlebih dapat mengganggu keseimbangan antara sel imun proinflamasi dan antiinflamasi sehingga menyebabkan sel-sel imun berperilaku abnormal dan menyerang jaringan kekebalan tubuh. Oleh karena itu kelebihan berat badan tidak hanya berisiko untuk penyakit metabolik, namun juga penyakit autoimun.
-
Paparan Zat Kimia
Paparan pestisida, logam berat, asap rokok, polusi udara, atau bahan kimia rumah tangga dapat memicu peradangan dan mengganggu sistem imun. Ini membuat tubuh lebih rentan terhadap reaksi autoimun, terutama jika paparan berlangsung lama.
-
Infeksi dan Virus
Infeksi tertentu dapat memicu sistem imun untuk bekerja terlalu keras dan dalam beberapa kasus, virus atau bakteri meniru struktur sel tubuh sendiri, menyebabkan sistem imun menyerang keduanya.