Gangguan pendengaran sering kali dianggap sebagai masalah yang hanya dialami oleh lansia. Padahal, penurunan fungsi pendengaran dapat terjadi pada siapa saja, termasuk usia produktif. Paparan suara bising dalam jangka panjang, penggunaan earphone dengan volume tinggi, infeksi telinga, efek samping obat tertentu, hingga proses penuaan merupakan beberapa faktor yang dapat menyebabkan gangguan pendengaran. Karena berkembang secara perlahan, banyak orang tidak menyadari adanya penurunan kemampuan mendengar hingga aktivitas komunikasi mulai terganggu.
Gangguan pendengaran yang tidak terdeteksi dapat memengaruhi kualitas hidup, produktivitas, kemampuan berinteraksi sosial, bahkan kesehatan mental. World Health Organization (WHO) memperkirakan lebih dari 1,5 miliar orang di dunia mengalami gangguan pendengaran dengan berbagai derajat keparahan, dan sebagian besar kasus sebenarnya dapat dicegah melalui deteksi dini serta perlindungan pendengaran yang baik.
Salah satu tanda awal yang sering muncul adalah kesulitan memahami percakapan, terutama ketika berada di lingkungan yang ramai. Penderita mungkin merasa lawan bicara berbicara kurang jelas, sering meminta orang lain mengulang perkataan, atau tanpa sadar meningkatkan volume televisi maupun telepon genggam lebih tinggi dibandingkan biasanya. Sebagian orang juga mengalami tinnitus, yaitu sensasi bunyi berdenging, mendesis, atau berdengung di telinga tanpa adanya sumber suara dari luar. Keluhan tersebut sebaiknya tidak diabaikan karena dapat menjadi tanda adanya gangguan pada sistem pendengaran.
Menjaga kesehatan telinga dapat dimulai dengan langkah sederhana, seperti membatasi penggunaan earphone dengan volume maksimal tidak lebih dari 60% dan durasi mendengarkan tidak melebihi 60 menit secara terus-menerus (60/60 rule). Selain itu, penggunaan pelindung telinga (earplug atau earmuff) sangat dianjurkan bagi individu yang bekerja di lingkungan dengan tingkat kebisingan tinggi, seperti area industri, konstruksi, atau tempat hiburan. Menghindari kebiasaan membersihkan telinga menggunakan cotton bud secara berlebihan juga penting untuk mencegah cedera liang telinga maupun gangguan pada gendang telinga.
Apabila Anda mulai merasakan adanya perubahan kemampuan mendengar yang menetap, segera lakukan pemeriksaan ke dokter spesialis Telinga, Hidung, Tenggorok, Bedah Kepala dan Leher (THT-KL). Dokter akan melakukan evaluasi menyeluruh, termasuk pemeriksaan fisik telinga dan bila diperlukan pemeriksaan audiometri untuk mengukur ambang pendengaran secara objektif. Pemeriksaan ini dapat membantu menentukan penyebab gangguan pendengaran, apakah disebabkan oleh penumpukan serumen (kotoran telinga), infeksi, gangguan telinga tengah, maupun kerusakan saraf pendengaran sehingga penanganan yang diberikan menjadi lebih tepat.
Di Columbia Asia Hospital Medan, layanan Spesialis THT-KL didukung oleh dokter berpengalaman serta fasilitas diagnostik yang memadai untuk membantu mendeteksi dan menangani berbagai gangguan pendengaran sejak dini. Pemeriksaan yang dilakukan secara tepat waktu dapat membantu mempertahankan kualitas pendengaran, meningkatkan kualitas hidup, serta mencegah komplikasi yang lebih serius.
Jangan abaikan perubahan sekecil apa pun pada pendengaran Anda. Semakin dini gangguan dikenali, semakin besar peluang untuk mendapatkan penanganan yang optimal. Konsultasikan keluhan Anda dengan dokter spesialis THT-KL di Columbia Asia Hospital Medan agar kesehatan pendengaran tetap terjaga sepanjang hidup.