Sering bingung melihat remaja yang sulit mengkontrol emosi dan sering mengambil keputusan berisiko? Tentu saja, kondisi ini amat wajar. Faktanya, perkembangan otak anak sama sekali tidak berhenti saat mereka lulus SMA. National Institute of Mental Health (NIMH) menegaskan bahwa otak manusia terus bertumbuh dan baru mencapai kematangan penuh pada pertengahan usia 20-an. Singkatnya, wajar jika remaja sering terlihat labil.
Pada dasarnya, fase perkembangan otak anak berlangsung unik dari arah belakang ke depan. Area belakang pengatur insting dasar dan dorongan fisik matang lebih dulu. Sebaliknya, bagian depan baru akan menyusul belakangan.
Bagian depan ini bernama korteks prefrontal. Area ini berfungsi mengendalikan emosi, merencanakan masa depan, dan memikirkan konsekuensi. Akibatnya, sebelum area ini matang sempurna, remaja lebih dominan mengandalkan amigdala, yakni pusat emosi. American Academy of Pediatrics (AAP) mencatat bahwa ketidakseimbangan inilah penyebab munculnya perilaku impulsif. Jelaslah, proses perkembangan otak anak amat mempengaruhi cara mereka bertindak.
Memahami tahapan perkembangan otak anak pasti membantu Anda menyesuaikan gaya pola asuh. Sebagai langkah awal, selalu berikan ruang aman bagi mereka bercerita tanpa langsung menghakimi. Bahkan, Anda bisa melatih mereka berpikir kritis. Alih-alih langsung memarahi saat mereka salah, bimbing perlahan mereka melihat seluruh konsekuensi logis dari setiap tindakan mereka kelak.
Terkadang, gejolak emosi justru melampaui batas kewajaran. Pastinya, jika Anda melihat perubahan perilaku drastis, kecemasan ekstrem, atau tanda depresi, segera cari bantuan medis. Kondisi tersebut sungguh bisa mengganggu perkembangan otak anak secara sistematis. Jangan tunda lagi, segera konsultasikan masalah ini bersama dokter spesialis. Tim medis di Columbia Asia Hospital siap mendampingi Anda menangani kesehatan mental buah hati. Segera jadwalkan kunjungan Anda untuk mendapatkan penanganan yang optimal!
Direview oleh