Melihat buah hati tercinta mendadak kaku saat badannya panas tinggi pasti membuat Anda panik luar biasa. Meskipun menakutkan, fenomena kejang demam ini sebenarnya sangat umum terjadi pada balita.
Ikatan Dokter Anak Amerika (AAP, 2024) menjelaskan bahwa mayoritas kondisi ini tidak merusak sel otak anak. Anda perlu memahami bahwa ada dua kategori utama yang membedakannya. Pertama adalah tipe kejang sederhana yang berlangsung singkat tanpa ada pengulangan. Kemudian, ada pula tipe kompleks yang durasinya lebih lama.
Penyebab utamanya secara umum adalah kenaikan suhu tubuh yang terjadi terlalu cepat. Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO, 2024), respons sistem saraf anak belum matang sehingga sensitif terhadap lonjakan panas. Gejalanya meliputi mata mendelik ke atas, tangan menyentak, bahkan hilangnya kesadaran sesaat. Kondisi fisik ini biasanya dipicu oleh infeksi virus atau bakteri biasa.
Saat menghadapi serangan kejang demam, ketenangan Anda adalah kunci utama keselamatan buah hati. Longgarkan pakaian anak supaya jalur pernapasannya tetap terbuka lega.
Selanjutnya, baringkan tubuh anak ke posisi miring demi mencegah risiko tersedak cairan. Jangan memasukkan benda apa pun ke mulut karena bisa mencederai rahang.
Kondisi kejang demam ini umumnya tidak berbahaya, tetapi kewaspadaan orang tua tetap nomor satu. Panduan resmi National Institutes of Health (NIH, 2025) menegaskan pemeriksaan medis mendesak wajib dilakukan jika durasi kejang melebihi lima menit. Segera bawa ke rumah sakit jika anak tidak kunjung sadar setelah fase kaku mereda.
Kesehatan saraf buah hati Anda adalah prioritas utama yang tidak boleh ditawar. Jangan biarkan kecemasan mengganggu kedamaian keluarga Anda. Oleh sebab itu, jadwalkan konsultasi dengan tim dokter spesialis anak tepercaya di Columbia Asia Hospital untuk mendapatkan penanganan medis yang tepat dan akurat. Kami berkomitmen siap mendampingi perjalanan kesehatan keluarga Anda dengan fasilitas medis modern dan layanan yang ramah.

Direview oleh