Pernahkah Anda mendengar istilah gen BRCA saat mencari informasi medis tentang kanker ovarium? Banyak orang mengira ini adalah gen pembawa penyakit. Padahal, BRCA (BReast CAncer gene) secara alami bertugas memperbaiki DNA yang rusak dan mencegah sel kanker tumbuh. Risiko kanker ovarium baru muncul ketika gen ini mengalami mutasi sehingga gagal menjalankan tugas pelindungnya.
Karena mengetahui kaitan genetik ini, banyak wanita menjadi khawatir dan ingin melakukan tes mutasi BRCA sebagai upaya deteksi dini rutin. Namun, langkah ini ternyata kurang tepat.
Berdasarkan pedoman National Comprehensive Cancer Network (NCCN), tes genetik BRCA tidak bisa dijadikan pemeriksaan rutin. Tes ini hanya direkomendasikan jika Anda memiliki riwayat keluarga dengan kanker payudara atau ovarium. Selain itu, tes genetik baru akan dipertimbangkan jika dokter menemukan benjolan (massa) atau kelainan spesifik pada ovarium melalui pemeriksaan USG.
Lalu, bagaimana jika Anda tidak punya riwayat keluarga, tetapi hasil USG menunjukkan adanya kista ovarium? Di sinilah peran penanda tumor CA-125.
Jika kista atau benjolan yang ditemukan mencurigakan, dokter tidak akan langsung menyarankan tes genetik BRCA. Menurut pembaruan klinis NCBI StatPearls, dokter akan menggunakan tes darah sederhana bernama CA-125. Tes ini tidak didesain untuk deteksi dini pada wanita sehat, melainkan secara spesifik dilakukan sebelum operasi pengangkatan kista ovarium guna mengevaluasi apakah kista tersebut mengarah pada keganasan (malignansi).
Kanker ovarium sering kali muncul diam-diam tanpa gejala awal yang khas. Anda wajib waspada jika terus-menerus merasa perut kembung, nyeri panggul, mendadak sering buang air kecil, atau sangat cepat kenyang.
Mengetahui berbagai risiko ini memang bisa memicu kecemasan, tetapi Anda tidak perlu menghadapinya sendirian. Jika keluhan di area perut bawah tidak kunjung hilang selama lebih dari dua minggu, luangkan waktu berdiskusi santai bersama dokter spesialis kandungan di Columbia Asia Hospital. Kami siap membantu merencanakan evaluasi klinis yang paling tepat, mulai dari USG rutin hingga tes spesifik sesuai kebutuhan tubuh Anda.
Artikel ini telah direview oleh: dr. Augustinus Setiabudi, SpOG, Subsp. ObginSos