Banyak orang menganggap remeh saat dokter mendiagnosis adanya penumpukan lemak di hati. Pemahaman bahwa penyakit hati berlemak bisa sembuh total hanya dengan diet adalah hal yang kurang tepat. Keyakinan ini justru sering membuat penanganan terlambat.
Kondisi awal ini dikenal sebagai Non-Alcoholic Fatty Liver Disease (NAFLD). Pedoman terbaru dari American Association for the Study of Liver Diseases (AASLD, 2024) kini menggunakan istilah Metabolic Dysfunction-Associated Steatotic Liver Disease (MASLD) untuk menekankan hubungannya dengan diabetes, obesitas, dan kolesterol.
Jika lemak terus menumpuk dan disertai peradangan, kondisinya dapat berkembang menjadi Non-Alcoholic Steatohepatitis (NASH). Pada tahap ini jaringan parut atau fibrosis mulai terbentuk dan dapat mengganggu fungsi organ hati.
Jika tidak ditangani, peradangan kronis berpotensi menyebabkan sirosis atau pengerasan hati. Pada stadium lanjut, sirosis meningkatkan risiko terjadinya karsinoma hepatoselular, yaitu kanker hati primer dan tentunya akan membutuhkan pembedahan.
Faktor risiko utamanya adalah gaya hidup kurang gerak, konsumsi gula berlebih, dan obesitas. Sayangnya, penyakit hati berlemak sering tidak bergejala di awal. Beberapa orang hanya merasakan mudah lelah atau tidak nyaman di perut kanan atas.
Memperbaiki pola makan disertai rutin berolahraga sangat membantu, bahkan dapat membalikkan peradangan dan fibrosis stadium awal. Namun pada kasus yang sudah lanjut, diperlukan pemantauan oleh dokter spesialis penyakit dalam dan terapi sesuai kondisi masing-masing pasien.
Segera konsultasikan ke dokter jika hasil USG menunjukkan fatty liver, atau jika muncul gejala seperti mata menguning, perut membesar dan pembengkakan pada kaki.
Mencegah kerusakan lebih lanjut jauh lebih baik. Tim dokter spesialis di Columbia Asia Hospital siap membantu Anda dengan pemeriksaan liver yang akurat dan penanganan yang tepat mulai dari screening sampai dengan tatalaksana yang komprehensif sesuai dengan problem yang ada.
