Artikel

Kambuh Asma Karena Stres, Kenali Pemicu dan Solusinya!

Banyak pasien merasa bingung ketika napas terasa berat saat tekanan pekerjaan atau masalah pribadi meningkat. Ternyata, kambuh asma karena stres adalah kondisi nyata yang sering terjadi. Stres memicu pelepasan zat kimia dalam tubuh yang menyebabkan peradangan di saluran napas sehingga napas menjadi lebih sempit.

Stres psikologis merangsang respons sistem saraf yang memengaruhi otot-otot di sekitar saluran napas. Menurut Global Initiative for Asthma, stres emosional dapat meningkatkan persepsi gejala asma dan memicu hiper-responsivitas saluran napas. Kondisi ini membuat penderita merasa lebih sesak meskipun paparan alergen tidak ada.

Kualitas udara buruk dan paparan polutan juga memperparah kondisi ini. Anda perlu membatasi aktivitas luar ruangan saat indeks kualitas udara sedang tidak sehat. Menjaga kebersihan rumah dari debu dan bulu hewan membantu mengurangi beban peradangan pada paru-paru Anda.

Kesalahan umum adalah penggunaan inhaler yang terburu-buru. Anda harus memastikan posisi mulut  sampai menutup rapat di mouthpiece. Tarik napas perlahan, tekan inhaler, dan tahan napas selama sepuluh detik agar obat mencapai bagian terdalam paru-paru. Pastikan Anda berkumur setelah memakai inhaler tipe corticosteroid untuk mencegah iritasi tenggorokan.

Jangan mengabaikan tanda-tanda peringatan. Jika Anda merasa kambuh asma karena stres terjadi lebih dari dua kali dalam seminggu, atau kebutuhan penggunaan obat pereda (inhaler biru) meningkat, segeralah mencari evaluasi medis. Pemeriksaan fungsi paru seperti spirometri sangat penting untuk menilai kondisi saluran napas Anda secara objektif.

Segera jadwalkan konsultasi dengan spesialis paru di Columbia Asia Hospital untuk mendapatkan rencana penanganan yang personal. Tim medis kami siap membantu Anda kembali bernapas dengan nyaman dan meningkatkan kualitas hidup Anda.

Direview oleh

PRIYADI WIJANARKO
dr.

PRIYADI WIJANARKO

PULMONOLOGY
Jadwalkan Konsultasi