Pernah bekerja dari kasur sampai larut malam atau merasa pekerjaan tidak pernah benar-benar selesai meski sudah di rumah? Bekerja dari rumah (work from home atau WFH) memang memberi fleksibilitas, tetapi jika tidak disertai batasan yang jelas, kondisi ini dapat memicu stres berkepanjangan.
Saat mengalami stres terus-menerus, tubuh akan memproduksi hormon kortisol lebih banyak. Hormon ini sebenarnya membantu kita menghadapi tekanan. Namun, jika kadarnya terus tinggi dalam waktu lama, kemampuan otak untuk berkonsentrasi, mengingat informasi, dan mengatur emosi dapat ikut terpengaruh. Karena itu, tidak sedikit orang yang merasa lebih sering lupa, sulit fokus, atau mudah tersinggung saat beban kerja meningkat.
Tanda-tandanya tidak selalu berupa rasa lelah. Anda mungkin mulai sering lupa hal-hal kecil, sulit menyelesaikan pekerjaan yang biasanya terasa mudah, lebih sensitif saat berdiskusi dengan rekan kerja, atau merasa tetap lelah meski sudah beristirahat. Pada sebagian orang, stres yang berlangsung lama juga dapat memengaruhi kualitas tidur dan daya tahan tubuh.
Kabar baiknya, kondisi ini dapat dicegah. Cobalah menetapkan jam kerja yang jelas dan usahakan berhenti bekerja ketika jam tersebut berakhir. Jika memungkinkan, pisahkan ruang kerja dengan area istirahat agar otak memiliki sinyal yang jelas kapan waktunya bekerja dan kapan waktunya beristirahat.
Namun, bila keluhan seperti sulit tidur, sakit kepala yang berulang, jantung berdebar, atau rasa cemas mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional. Penanganan sejak dini dapat membantu mencegah stres berkembang menjadi masalah yang lebih serius.
Menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan menjaga kesehatan fisik. Jika Anda merasa stres mulai memengaruhi pekerjaan maupun kehidupan sehari-hari, konsultasikan kondisi Anda dengan dokter spesialis di Columbia Asia Hospital untuk mendapatkan penanganan yang sesuai.

Direview oleh