Media sosial sering memamerkan tren kesehatan baru. Salah satunya adalah diet low FODMAP yang disebut ampuh mengatasi perut kembung. Banyak anak muda langsung mencobanya saat merasa begah. Padahal, mengubah pola makan secara ekstrem tanpa petunjuk medis bisa memicu gangguan pencernaan baru yang lebih parah.
Pola makan ini dirancang khusus untuk penderita Irritable Boel Syndrome (IBS). Sindrom ini menyebabkan nyeri perut, diare, hingga sembelit. Berdasarkan panduan World Gastroenterology Organisation (WGO, 2024), FODMAP adalah kelompok karbohidrat rantai pendek yang sulit diserap usus. Makanan tinggi FODMAP seperti bawang dan susu sering memicu gas berlebih. Jadi, metode ini bekerja dengan membatasi makanan tersebut untuk menenangkan pencernaan Anda.
Satu hal yang wajib Anda pahami, pembatasan ini bukan untuk seumur hidup. Penelitian dalam Journal of Clinical Gastroenterology (2025) menegaskan bahwa diet low FODMAP terdiri dari tiga fase utama. Fase tersebut meliputi eliminasi, reintroduksi lambat, serta modifikasi personal. Fase reintroduksi sangat krusial karena membantu mendeteksi jenis makanan pemicu gejala. Jika Anda terus membatasi makanan tanpa batas waktu, bakteri baik di dalam usus justru akan mati.
Jangan mendiagnosis diri sendiri hanya lewat konten video viral. Segera periksakan diri ke dokter jika perut kembung tidak kunjung mereda. Gejala lain seperti berat badan turun drastis atau BAB berdarah membutuhkan penanganan medis. Pedoman dari American Gastroenterological Association (AGA, 2024) mengingatkan bahwa pola makan ketat tanpa pengawasan pakar sangat berisiko menyebabkan malnutrisi energi kronis berbahaya. Sebab kesehatan pencernaan sangat kompleks, Anda memerlukan panduan medis yang tepat. Tim dokter spesialis dan nutrisionis di Columbia Asia Hospital siap membantu mengevaluasi kondisi lambung Anda. Kami akan menyusun rencana nutrisi yang aman tanpa merusak keseimbangan bakteri usus.

Direview oleh