Pernahkah Anda gemas mengajari orang tua memakai aplikasi di smartphone? Faktanya, kondisi lansia sulit belajar bukan pertanda otak mereka berhenti bekerja sepenuhnya. Fenomena medis ini sangat wajar terjadi seiring bertambahnya usia biologis. Memahami perubahan kognitif ini penting supaya kita bersabar saat mendampingi keseharian mereka.
Secara medis, kemampuan dasar otak menyerap informasi baru sangat bergantung pada neuroplastisitas. Bertambahnya usia pasti membuat proses Long-Term Potentiation (LTP) menurun perlahan. LTP adalah mekanisme sel saraf memperkuat koneksi saat mempelajari sesuatu. Akibatnya, sambungan antar jaringan saraf atau sinapsis menjadi jauh lebih lambat merespons memori baru.
Kondisi lansia sulit belajar juga dipengaruhi oleh drastisnya penyusutan mielin. Mielin merupakan selubung lemak pelindung saraf yang bertugas mempercepat pengiriman sinyal otak. Menipisnya mielin otomatis membuat pemrosesan informasi melambat. Menurut publikasi National Institute on Aging, murni karena perubahan struktural inilah orang tua butuh waktu lebih lama untuk mengingat.
Anda tetap bisa membantu menjaga ketajaman pikiran mereka. Pertama, rutin ajak mereka jalan santai pagi demi kelancaran oksigen otak. Kedua, berikan permainan asah otak seru untuk merangsang pertumbuhan sel baru. Menurut jurnal Nature Neuroscience, stimulasi otak terbukti begitu efektif guna memperlambat penurunan kognitif.
Keluhan lansia sulit belajar memang murni proses alami. Walaupun begitu, Anda sangat patut waspada bila mereka perlahan melupakan arah rute pulang atau tidak mengenali wajah anggota keluarga. Tanda bahaya tersebut bisa saja mengarah kuat pada kemunculan gejala penyakit demensia dan alzheimer.
Jangan pernah menunda pemeriksaan medis bila tanda tersebut muncul. Segera jadwalkan sesi konsultasi langsung bersama dokter saraf di Columbia Asia Hospital. Tim ahli kami siap mendeteksi dini berbagai gangguan neurokognitif demi menjaga kualitas hidup Anda.
